Topik kita hari ini:
Silahkan memilih topik dalam kategori di bawah ini dan berbagi (sharing) gagasan pada kolom komentar pada di setiap artikel.

Jumat, 14 Mei 2010

Siapa Perlu Trining?

Siapa perlu training? Sungguh bijak, jika yang harus dilihat pertama adalah:  "Apakah seseorang telah berada pada tempat yang tepat. The right man on the right place" Apakah seseorang (atau lebih) telah memiliki kompetensi seperti yang dipersyaratkan oleh jabatannya (requir jobs).



Biasanya, sebuah organisasi perusahaan merumuskan Competence Level, sebagai berikut: Novice, Begineer Competent, Proficient dan Expert, pada setiap jabatan masing-masing.
Namun, walaupun serangkaian uji skill telah dilaksanakan, mengapa prodiktifitasnya masih belum memadai?

Tidaklah sulit untuk menjawab pertanyaan tersebut jika kita ingat tentang KSA Triangel ( Knowledge, Sklill dan Attitude).
Kemampuan (ability, power) akan tercipta secara optimal jika terjadi keseimbangan antara ketiga hal tersebut. Yaitu, knowledge, sklil dan attitude.
Dalam bahasa sederhana, sebut saja pengetahuan, ketrampilan dan sikap. Atau lebih mudah lagi kita sebut tahu, bisa dan mau.

Pertanyaannya, bagaimana orang bisa produktif, jika tidak tahu yang harus dikerjakan?
Jika pun tahu, apakah ia bisa melakukannya?
Dan...yang terpenting, tahu dan bisa saja belum cukup.
Bagaima jika ia tidak mau melakukan?
Bagaimana jika tidak termotivasi untuk melakukannya?

Seorang pemimpin yang cakap akan dapat menemukan bagaimana cara memotivasi anak buahnya. Ia tidak akan menggunakan motivasi yang manipulatif. Ia akan menemukan pendekataan yang memberdayakan, dan bukan memperdayai.

Pemimpin bijak akan menemukan faktor-faktor yang dapat memotivasi bawahannya.
Motivation factor itu bisa ekstrinsik, bisa pula intrinsik.
Sayangnya di Indonesia, tidak banyak pemimpin yang mumpuni seperti itu. Kalau supervisor, pengawas, manajer, boss, penguasa ...banyak!

Fenomenanya adalah, banyak para karyawan yang sengaja ”memasang hand-rem”, sehingga menjadi hambatan yang bikin pusing para leader!
Mobil yang kehabisan bahan bakar dapat diisi bensin. Aki yang lemah bisa di charge ulang, dimotivasi!
Tetapi, bagamana jika mereka sengaja memasang ”hand rem” dengan berbagai alasan yang menurut mereka baik?

Itu tantangan bagi HRD PRO, tantangan yang telah dilalui dengan cara berliku-liku dan belajar dari sejumlah kegagalan.
HRD PRO selalu mengembangkan kemampuannya untuk para  karyawan yang memasang "hand-rem" tersebut.
Dengan kemampuan ini, kami siap menjadi parner Anda yang fairnes, dalam upaya  mengembangkan kualitas SDM dalam tanggung jawab Anda.

Semoga informasi ini bermanfaat dan silahkan kontak kami, di kolom komentar atau e-mail: hrd@hrdpro.net atau whienda@hrdpro.net.

0 Apresiasi:

Poskan Komentar

Anda dapat memberi komentar yang bermanfaat baik bagi Anda, kami dan semua pengunjung. Jika Anda belum memiliki akun blogger, Anda dapat mencantumkan nama dan alamat E-mail agar dapat kami layani sebagaimana seharusnya.